h1

Jabang Tetuka, The Flying Knight of Pringgandani (Part 1)

Oktober 29, 2008

Siapa ya Jabang Tetuka itu? Banyak yang tahu nama Gatot Kaca, tapi nama Jabang Tetuka tidak banyak dikenal. Jabang Tetuka sebenarnya adalah nama kecil dari Gatot Kaca alias Ksatria Pringgadani (The Flying Knight Of Pringgadani). Inilah kisah dari Jabang Tetuka.

Alkisah di Negeri Pringgandani, Bima atau Raden Bratasena sedang pusing tujuh keliling memikirkan nasib anaknya Jabang Tetuka yang sampai sekarang tali pusarnya belum terpotong. Diceritakan bahwa Jabang Tetuka telah berumur tiga tahun. Tapi belum ada senjata yang dapat memotong tali pusarnya. Dan dikatakan juga hanya dengan senjata Kunta saja yang bisa memotong tali pusar Jabang Tetuka. Bima akhirnya mengutus adiknya Arjuna untuk mencari senjata Kunta yang dapat memotong tali pusar Jabang Tetuka.

Di Kahyangan, tempat bersemayamnya para dewa sedang terjadi keributan. Prabu Nagapercona yang berwujud raksasa bersama ribuan pasukan raksasanya sedang menyerang Kahyangan. Hal ini dikarenakan tidak dipenuhinya keinginan Preabu Nagapercona untuk mempersunting bidadari Kahyangan, Dewi Supraba. Para Dewa yang dipimpin oleh Batara Bayu nampaknya kewalahan menghadapi serangan Pasukan Raksasa, hal ini dilaporkan kepada Batara Guru, raja para dewa oleh Batara Narada. Batara Guru kemudian memerintahkan Batara Narada untuk memberikan senjata Kunta kepada arjuna untuk digunakan memotong tali pusar Jabang Tetuka. Menurut Batara Guru hanya Jabang Tetuka-lah yang dapat mengalahkan Prabu Nagapercona. Turunlah Batara Narada ke Bumi untuk mencari Arjuna.

Batara Narada yang sedang mencari Arjuna melihat Aradea yang sangat mirip dengan Arjuna dan dihampirilah Aradea. Aradea yang di kemudian hari akan lebih dikenal dengan nama Karna sebenarnya merupakan kakak tertua Arjuna namun Aradea terpisah sejak bayi. Dan berceritalah Batara Narada mengenai tugas yang diembannya. Aradea tahu kalau Batara Narada salah orang dan Aradea berpura-pura menjadi Arjuna. Dan diserahkanlah pusaka Kunta kepadanya.

Kebetulan Arjuna juga sedang berada di hutan yang sama. Di perjalanan pulang ke Kahyangan Batara Narada bersua dengan rombongan Arjuna. Terkejutlah Batara Narada. ternyata dia telah salah orang. Dan diceritakanlah apa yang telah terjadi kepada Arjuna. Semar segera mengetahui bahwa orang yang mirip dengan Arjuna adalah Aradea.

Bergegaslah Arjuna mencari Aradea. Setelah ketemu, Aradea tidak mau mengakui bahwa ia telah menerima Kunta dari Batara Narada. Kemudian terjadilah perang mulut. Karena tak mau menyerahkan senjata Kunta dan takut kesalahannya terbongkar, Aradea menghunuskan keris dan menyerang Arjuna, namun Arjuna dapat menghindar. Pada satu kesempatan Aradea menyarangkan pukulan dan membuat Arjuna pingsan. Setelah mengambil kembali Keris yang sempat terjatuh, Aradea pun memutuskan untuk pergi. Di saat itulah Aradea hendak melarikan diri, namun ketika ia mau melompat pergi, kakinya dipegang oleh Arjuna. Ia terjatuh dan terjadilah pergulatan. Keduanya sama kuat dan dikisahkan pada saat pergulatan, Arjuna sempat merebut sarung senjata Kunta dari Aradea sebelum Aradea kabur ke dalam kegelapan malam. Dengan kecewa Arjuna pulang ke Amarta.

Di pagi hari menuju Amarta, rombongan Arjuna dikejutkan dengan munculnya Batara Narada. Batara Narada meminta maaf atas kekeliruannya dan menjelaskan bahwa sarung Kunta tetap berguna dan dapat digunakan untuk memotong tali pusar Jabang Tetuka. Mendapat penjelasan dari Batara Narada, Arjuna memutuskan untuk berangkat ke Pringgandani.

Tak lama kemudian, Arjuna tiba di Pringgandani. Bima meminta Arjuna menyerahkan senjata yang dapat memotong tali pusar Jabang Tetuka. Arjuna dengan gugup menjelaskan bahwa yang didapatnya bukan senjata tetapi hanya sarungnya. Meledaklah marah Bima, hampir-hampir Arjuna kena hajar. Untung ada Batara Kresna yang mencegah dan meminta Bima mendengar penjelasan Arjuna.

Sambil memperlihatkan kuku Pancanaka-nya, Bima berjalan modar-mandir menanti penjelasan dari Arjuna. Arjuna pun menjelaskan dari awal sampai akhir peristiwa yang dialaminya. Semua orang terkagum-kagum dengan sarung senjata Kunta, hanya Bima yang tidak percaya dengan keampuhannya. Tapi dengan telaten Batara Kresna memberi nasihat supaya tali pusar Jabang Tetuka dicoba potong dengan sarung Kunta. Akhirnya Bima setuju dan semua yang diperlukan disiapkan. Sedangkan yang lainnya berdoa. Batara Kresna yang ditugaskan untuk memotong tali pusar anaknya. Tali pusar berhasil dipotong tapi kemudian hal yang ajaib terjadi. Sarung Kunta tertelan oleh tali pusar Jabang Tetuka. Hal ini membuat histeris semua orang. Raden Bratasena bergegas menarik keluar sarung itu tapi semakin ditarik semakin masuk ke dalam perut sang bayi. Akhirnya sarung itu masuk sepenuhnya ke dalam perut Jabang Tetuka.

Tak terbayangkan tentang kesedihan Arimbi, ibu Jabang Tetuka. Mereka yang menyaksikan peristiwa tersebut tak dapat berbuat apa-apa, selain memanjatkan doa dihatinya masing-masing. Yang teredengar hanyalah tangisan Jabang Ttuka dan isak Arimbi yang menyayat hati Bima. Tiba-tiba lagi muncullah Batara Narada yang datang melihat Jabang Tetuka. Dikatakan pada Raden Bratasena kalau di masa yang akan datang, Jabang Tetuka akan menjadi sosok pahlawan yang disengani oleh kawan mau pun lawan. Dan diperingati pula supaya hati-hati kalau perang tanding dengan Karna karena hanya senjata Kunta milik Karna yang dapat membinasakan Jabang Tetuka.

Waktu berjalan dari hari ber ganti hari, bulan berganti bulan. Jabang Tetuka sekarang telah dapat berjalan dan sangat lincah. Semua orang sangat senang dengan kelucuan Jabang Tutuka. Memang sudah kebiasaan Batara Narada untuk datang dan pergi secara mendadak. Batara Narada muncul dihadapan Jabang Tetuka yang lagi bermain dengan ayahnya. Dan Batara Narada mengatakan bahwa sudah waktunya untuk Jabang Tetuka. Kata-kata itu membuat Bima heran dan bertanya apa maksudnya. Dijelaskanlah oleh Batara Narada kalau dirinya membawa tugas untuk meminjam Jabang Tetuka untuk membantu para dewa membasmi keangkaramurkaan Prabu Nagapercona, karena dipercaya raja-raja bahkan dewa-dewa tidak ada yang mampu menaklukkan Raden Nagapercona dan hanya Jabang Tetuka seorang yang dapat menaklukkan Prabu Nagapercona.

Maka minta izinlah Batara Narada untuk meminjam Jabang Tetuka untuk menghadapi Prabu Nagapercona. Logika saja mana mungkin seorang anak kecil menghadapi musuh yang bahkan para dewa pun tidak sanggup melawan. Bima marah kepada kehendak dewa dan mengatakan bahwa anaknya hanya akan digunakan sebagai tumbal. Kebetulan tibalah Batara Kresna yang datang berkunjung untuk menengok Jabang Tetuka. Dan Batara Kresna pun ditempatkan sebagai penengah masalah yang rumit ini.

Batara Kresna berkata bahwa semua di dunia ini telah diatur oleh Yang Esa. Kebetulan mereka semua medapatkan titipan untuk membina dan menjaga Jabang Tetuka. Dan sekarang para dewata ingin meminjam Jabang Tetuka untuk membasmi keangkaramurkaan. Tiba-tiba saja Jabang Tetuka berkata bahwa dia ingin menjadi pahlawan. Akhirnya direlakanlah anaknya untuk membantu para dewata demi kebaikan umat manusia. Bima melepaskan Jabang Tetuka dengan ancaman kalau anaknya terluka, dia akan menyerang Kahyangan.

Bagaimanakah kelanjutan cerita dari Jabang Tetuka ini? Berhasilkah dia mengalahkan Prabu Nagapercona? Tunggu kisah selanjutnya di Jabang Tetuka, The Flying Knight of Pringgandani Part 2.

*)Dirangkum dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: